See Beyond the Eyes Can See

Senin, 19 Maret 2012

Bendera Kematian

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Itu yang saya rasakan saat perpindahan domisili kami sekeluarga. Kondisi ini menuntut kami belajar menyesuaikan lerhadap ladang baru dan lubuk baru ini tentunya. Dengan bermacem2 belalang dan ikannya. Pertama sowan ke tetangga2 untuk kulonuwun saja sudah menemukan corak belalang ato ikan yang beda beda itu. Satu tetangga mewanti wanti untuk tidak ini dan itu, jangan terlalu akrab dengan si anu dan si ani. Yang lain lagi ngasih mantra mantra yang wise untuk harus gini dan githu. Doktrin sistemik tetangga2 baru kami rasanya… Tapi kami menyadari kami ini ikan yg baru dicemplungke ke lubuk baru..yang punya aturan, ketentuan sendiri yang musthi kita pahami dari awal.

 Belum genap seminggu kami numpang ngeyup di rumah tua peninggalan meneer meneer walondo Colomadu. Kami diajari sekaligus diingatkan tentang kehidupan. Kehidupan sesungguhnya bermasyarakat dan awal kehidupan sesungguhnya yaitu kematian tetangga kami. Kematian yang mengajarkan kami untuk berperan bermasyarakat dari penyemayaman, memandikan mayat, mensholatkan dan uborampe uborampenya. Yang pasti kematian itu menjadi sebaik baik pelajaran dari surat cintaNYA dalam surat Yunus 49 ”…Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula dapat memajukannya.” kepada kami. Lhawong bapaknya baru saja kenalan sama saya, kenalan di teras mushola tua selepas maghrib itu. Sungguh singkat perkenalan kami…

 Bendera Kematian, itu satu dari sekian yang menarik bagi saya di tempat baru kami.. Semakin mempertegas bahwa lain ladang lain belalalng, lain lubuk lain ikannya. Ketika di jogja ketika ada kematain dipasang bendera putih sebagai penanda ada yang meninggal dunia, di solo eh ganti warna merah dan ada usulan katanya mau diganti warna hijau dan ada lagi yang warnanya kuning disekitaran jawabarat dan ibukota. Yang memakai warna kuning usut punya usut konon katanya memang berasal dari jaman penjajahan Belanda. Meneer-meneer itu ketakutan terhadap pribumi yang terkena wabah penyakit, mematikan yang akhirnya di Quarantine di sebuah kapal sampai meninggal. Pengennya sich mungkin biar ga menular. Dan untuk penanda kapal “kematian” ini dipakailah warna bendera KUNING. Lha sekarang darimana asalnya cerita penanda di Solo sekitarnya bendera kematian itu merah warnanya. Ah mungkin ini karena Solo tersohor sebagai “kandang bantengnya” dengan pakJokowi yang sekarang maju DKI1 hehe . Ato mungkin juga di Solo banyak fans Bimbo “ Hidup dan Pesan Nabi” hehe..

Pesan nabi tentang mati, 
jangan takut mati karna pasti terjadi. 
setiap insan pasti mati hanya soal waktu.
 Pesan nabi tentang mati,
 Janganlah minta mati datang kepadamu 
 Dan janganlah kau berbuat menyebabkan mati.

Yang pasti warna merahnya menyiratkan untuk kita harus berani menghadapi mati. Tapi jangan mencari mati seperti pesannya nabi. Keberanian yang diperhitungkan, keberanian yang dipersiapkan dengan sangu-sangunya. Trus yang warna putih apa coba sejarahnya. Teringat temen saya di alamaya pernah crita bahwasanya PakDadab berwasiat untuk tidak mau memakai bendera warna kuning ato merah. Akhirnya permintaan itu di iyakan seluruh keluarga..usut punya usut dicari musababnya.
 “mengapa?”
 “Ini permintaan Bapak,” jawab anak PakDadab.
“Maksudnya?”
“Bapak tak ingin ada bendera politik saat kematianku. Kalau putih kan netral.”
“oh, di kematian saja sudah ada politisasi.”
Hwarakadah Ya apapun itu penandanya, mau merah, mau ijo, mau pink, semua sebagai pengingat akan kematian yang pasti datang. Yang pasti juga ketika lahir dalam keadaan suci, mana ada orang yang mau menghadap Gusti juga tidak dalam keadaan suci.

 Lha yang saya tulis ini yang mungkin tidak pasti heheh… hanya mungkin dan mungkin, digathux gathukkan dengan makna bendera kematian. Mencoba memahami yang sudah digariskan Gusti ketika kejadian ini ada disekitar kami. Semua sudah ada aturan dalam AlQuran dan sunnah nabiNya. Hidup jangan dibikin ruwet, matinya juga jangan diruwetkan dengan aturan yang ga jelas bin manut wudelle dewe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Us

Recent

Random